Sejarah

Terra Incognita Nusantara: Dari Kolonisasi Belanda hingga Lahirnya Museum Geologi

24 July 2025 Rayna Siti Aliyya, Azmah Sholihah, Agustina Djafar
Terra Incognita Nusantara: Dari Kolonisasi Belanda hingga Lahirnya Museum Geologi
Ringkasan Kekaisaran Ottoman membatasi izin para pedagang Eropa untuk memasuki wilayah Laut Hitam, Laut Merah, dan sebagian besar Mediterania. Serangan terhadap kapal-kapal dagang dari Semenanjung Iberia (Kerajaan Portugis dan Spanyol),

Pada abad ke 15, Bangsa Eropa melakukan ekspedisi maritim besar-besaran ke penjuru dunia termasuk ke Nusantara. Peristiwa ini dikenal sebagai ‘Zaman Penjelajahan Samudra atau Age of Discovery’. Penjelajahan ini didorong oleh suatu peristiwa besar, paska penaklukan Kota Konstantinopel (Kekaisaran Romawi Timur) di bawah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) pada 1453, menyebabkan putusnya jalur perdagangan darat antara Eropa dan Asia. Kekaisaran Ottoman membatasi izin para pedagang Eropa untuk memasuki wilayah Laut Hitam, Laut Merah, dan sebagian besar Mediterania. Serangan terhadap kapal-kapal dagang dari Semenanjung Iberia (Kerajaan Portugis dan Spanyol), yang berusaha menembus kawasan Mediterania juga dilakukan oleh bajak laut yang didukung Ottoman. Pemblokiran akses ke jalur perdagangan tradisional menuju Asia kemudian memaksa Spanyol dan Portugal untuk mencari rute perdagangan alternatif.

Pencarian rute alternatif tersebut didorong oleh semangat Gold, Glory, dan Gospel. Motif mencari kekayaan (Gold), memperluas wilayah kekuasaan (Glory), dan menyebarkan agama (Gospel) bukanlah hal yang bertentangan, justru saling melengkapi. Bangsa Spanyol dan Portugis yakin bahwa Tuhan akan memberi berkah bagi mereka yang setia dan berjasa mendukung agamanya. Dengan semangat tersebut, dan karena terdesak konflik geopolitik, Vasco da Gama seorang navigator dari Portugal berhasil menemukan rute maritim yang memutari selatan Benua Afrika menuju India pada 1487, dan penemuan “Dunia Baru” oleh Christopher Columbus yang menyeberangi Samudra Atlantik dan sampai di Benua Amerika pada 1492. Berkat eksplorasi maritim tersebut, pengetahuan geografi di Eropa berkembang pesat dan membuka rute perdagangan serta ekspansi kolonial bangsa Eropa ke Benua Asia dan Amerika.

Pada abad ke-16, cara orang Eropa memandang dunia untuk terus melakukan pencarian daerah baru semakin bertambah dengan adanya penerjemahan buku Geographia karya Ptolemy. Terra incognita atau "tanah yang belum ditemukan" yang disebut Ptolemy dalam bukunya membuat para pembuat peta mulai menggambarkan wilayah-wilayah asing sebagai bagian yang terhubung dengan dunia yang sudah dikenal. Dunia yang sebelumnya mereka anggap sempit dan tidak terjangkau, karena penemuan jalur pelayaran baru oleh Vasco da Gama dan Christopher Columbus menjadi terasa jauh lebih luas dan perlu untuk ditemukan dan dieksplorasi.

Namun, Portugal dan Spanyol yang memiliki informasi geografis rute perjalanan ke wilayah terra incognita menutup rapat akses informasi yang bisa membawa mereka ke kawasan Timur. Sementara itu, bangsa Eropa lain belum memiliki akses yang sama untuk bisa melewati jalur perdagangan alternatif tersebut. Kemudian, pada akhir abad ke-16, bangsa Belanda dan Inggris menemukan "kunci" menuju Asia lewat buku Itinerario (1596) karya Jan Huygen van Linschoten yang berisi rahasia rute laut Portugis ke kawasan Timur (Gambar 1). Buku ini bukan hanya memuat informasi rinci mengenai rute laut, tapi juga kondisi perairan Asia, peta awal modern, budaya, dan komoditas yang ada di kawasan Timur.

Gambar 1. Buku Itinerario karya Jan Huygen van Linschoten

Dari empat bagian buku Itinerario, bagian ketiga yaitu Reysgheschrift merupakan bagian yang paling berpengaruh. Di sinilah terdapat rahasia jalur laut Portugis ke Malaka, Jawa, Sunda, Cina, Jepang, bahkan Brasil. Navigator Belanda, Cornelis de Houtman, bersama saudaranya pernah ditangkap oleh pihak Portugis karena mencoba mencuri peta jalur perdagangan menuju kawasan Timur.

Namun, perusahaan dagang Belanda yang baru saja didirikan dan merupakan cikal bakal dari VOC membayar uang tebusan untuk membebaskan mereka. Berbekal Itinerario, mereka pun memulai pelayaran besar bersama empat kapal menuju Maluku, pulau penghasil rempah yang jadi incaran bangsa-bangsa Eropa. Berkat petunjuk Linschoten, de Houtman melewati Selat Sunda, bukan Malaka dan menandatangani perjanjian dagang dengan Jawa, Sumatra, dan Bali. Selain itu, buku yang ditulis Linschoten menjadi pemicu berdirinya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) oleh Belanda (1602) dan melahirkan naturalis-naturalis dari Eropa yang mengeksplorasi terra incognita di Nusantara.

Penemuan dunia baru yang terjadi di Eropa membawa bukti nyata akan keberadaan terra incognita. Mulai dari benda-benda eksotis, rempah-rempah langka, hingga keberagaman potensi sumber daya geologi yang memantik rasa penasaran para naturalis untuk melakukan penelitian di tempat yang belum ditemukan, salah satunya Indonesia. Penelitian terkait kegeologian dan ilmu alam di Indonesia telah dirintis oleh banyak ilmuwan dari masa ke masa. Penelitian terkait kegeologian mulai gencar dilakukan setelah didirikannya Dinas Pertambangan (Dienst van het Mijnwezen) pada 1850 di Batavia.

Jauh sebelum dibentuknya Dinas Pertambangan tersebut, penelitian terkait ilmu geologi dan ilmu alam sudah dilakukan oleh beberapa ilmuwan, contohnya adalah Georg Eberhard Rumpf atau yang dikenal dengan nama Rumphius (Gambar 2). Ia lahir di Wölfersheim, Jerman pada 1 November 1627. Rumphius tiba di Batavia pada Juli 1653 dan melanjutkan pelayaran ke Ambon pada 1654.

Di sana, ia memulai penelitiannya mengenai flora dan fauna. Selain dikenal dengan nama Rumphius, ia juga dikenal sebagai Si Buta dari Ambon, karena glaukoma yang ia derita. Pada akhirnya, ia meninggal di Ambon pada 1702 dengan karya terkenalnya yang berjudul Herbarium Amboinense (Het Amboinsche Kruidboek). Karya tersebut memuat tentang ribuan tumbuhan di Ambon. Selain itu, Rumphius juga memberikan catatan mengenai gempa bumi dan berita letusan gunung api di Maluku, serta keterdapatan beberapa mineral dan belemnit di Kepulauan Sula.

Gambar 2. Sejarah Penelitian Geologi Indonesia, yang dipamerkan di selasar Museum Geologi

Selain Rumphius, terdapat ilmuwan lain yaitu Franz Wilhelm Junghuhn yang menjadi perintis penelitian geologi di Indonesia (Gambar 3). Ia merupakan peneliti berkebangsaan Belanda keturunan Jerman yang lahir di Mansfeld, Jerman pada 26 Oktober 1809 dan meninggal di Lembang pada 24 April 1864. Semasa hidupnya, Junghuhn melakukan banyak perjalanan dan melukiskan pengalamannya dengan sudut pandang ilmiah. Karyanya yang terkenal yaitu berjudul Java yang memiliki 3 jilid disertai dengan peta dan gambar berwarna. Karya ini menjadi rujukan penting dalam penelitian kegeologian, geografi, dan botani di Indonesia.

Gambar 3. Junghuhn, naturalis Jerman yang melakukan penelitian geologi di Indonesia

Ilmuwan lainnya yang juga berperan dalam penelitian kegeologian di Indonesia yaitu Marie Eugene Francois Thomas Dubois. Ia merupakan seorang ahli paleoantropologi berkebangsaan Belanda, yang terkenal dengan temuannya ‘Pithecanthropus erectus atau Java Man’, pada 1890 di Daerah Trinil Jawa Timur. Penamaan ini kemudian diubah menjadi Homo erectus. Dubois memiliki minat yang besar dalam mempelajari dan meneliti evolusi manusia yang mengantarkannya pada hipotesa mengenai adanya spesies perantara dalam evolusi manusia yang dikenal dengan istilah missing link.

Dengan makin banyaknya penelitian geologi yang dilakukan di Indonesia pada kurun waktu tersebut, Dienst van het Mijnwezen mengalami perubahan struktur dan berganti menjadi Dienst van den Mijnbouw, serta berperan besar dalam pembangunan laboratorium geologi yang kemudian bertransformasi menjadi Museum Geologi.

Pada awal pendiriannya, Museum Geologi difungsikan sebagai laboratorium geologi untuk menyimpan dan melakukan pengelolaan benda-benda geologi yang dikumpulkan sejak tahun 1850. Pembangunan laboratorium ini sejalan dengan harapan pemerintah Belanda untuk mendukung dan menunjang perkembangan industri di Belanda. Hal ini dipicu oleh peristiwa revolusi industri di Eropa, yang menyebabkan bangsa-bangsa di Eropa berbondong-bondong meningkatkan kemampuan dalam ranah industri.

Pada tahun 1928, Dienst van Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat, Bandung atau yang saat ini dikenal sebagai Jalan Diponegoro. Bangunan ini kemudian diresmikan pada 16 Mei 1929, bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4. Gedung tersebut kemudian dikenal luas sebagai Museum Geologi. Hingga kini, Museum Geologi masih menyimpan tinggalan penelitian dari naturalis-naturalis Eropa yang telah melakukan eksplorasi di Indonesia pada masa penjajahan Hindia Belanda. Salah satunya adalah koleksi fosil tengkorak Homo Erectus P-VIII hasil temuan Dubois, yang replika fosilnya dipamerkan di ruang pamer Sejarah Kehidupan sayap timur lantai satu Museum Geologi (Gambar 4).

Gambar 4. Replika fosil tengkorak Homo Erectus P-VIII yang dipamerkan di Ruang Sejarah Kehidupan