Kembali ke Kegiatan

Aspek Geologi dalam Perencanaan Tata Ruang: Menata Masa Depan yang Aman dan Berkelanjutan

Edukasi / 08 July 2025
Aspek Geologi dalam Perencanaan Tata Ruang: Menata Masa Depan yang Aman dan Berkelanjutan
Penulis Ghefira Salsabillah

Selasa, 17 Juni 2025, Museum Geologi mengadakan kegiatan “ Sarasehan Geologi Populer “ (SGP) di Auditorium Museum Geologi. Tema yang diangkat kali ini adalah “ Aspek Geologi dalam Perencanaan Tata Ruang”. Acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman lintas kalangan, mulai dari Pelajar, Mahasiswa, hingga pejabat pemerintahan, mengenai pentingnya geologi dalam mewujudkan tata ruang yang aman, efisien, dan berkelanjutan.

Acara dibuka oleh Kepala Museum Geologi, Raden Isnu Hajar Sulistyawan. Kemudian seminarnya dipimpin oleh Agustina DJafar, Penyelidik Bumi Madya di Museum Geologi, sebagai moderator. Dalam pengantarnya sebelum sesi pemaparan, Agustina menegaskan bahwa geologi memiliki peran penting tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga dalam pembangunan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. “Ilmu geologi bukan hanya milik para geosaintis, tetapi merupakan pengetahuan penting untuk kesejahteraan masyarakat secara luas,” ujarnya.

Narasumber yang hadir adalah Dody V.C. Ricardo Sinaga, S.T., M.A., M.Eng.,  Direktur Tata Ruang Perkotaan, Pertanahan, dan Penanggulangan Bencana Kementerian PPN/Bappenas. Kemudian Ir. Andiani, M.T., Penyelidik Bumi Ahli Utama dari Pusat Air Tanah dan Tata Lingkungan, Badan Geologi. Selanjutnya Dr. P. Hadi Wijaya, S.T.,M.T.,  Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi.

Sesi pertama diisi oleh Dody V.C. Ricardo Sinaga. Beliau memaparkan urgensi penataan ruang yang berbasis data dan regulasi, mengingat keterbatasan ruang serta meningkatnya kebutuhan lahan akibat pertumbuhan penduduk. “Ruang yang terbatas harus ditata secara tepat agar tidak menimbulkan konflik pemanfaatan dan risiko bencana di masa mendatang,” ujar Dodi.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Andiani. Beliau menjelaskan pentingnya geologi lingkungan dalam menjaga ketersediaan sumber daya alam, terutama air tanah. “Sebanyak 70% kebutuhan air bersih masyarakat masih berasal dari air tanah. Jika tidak dijaga, maka akan terjadi penurunan muka air tanah secara signifikan yang berdampak pada stabilitas wilayah,” ungkap Andi.

Sesi ketiga menghadirkan P. Hadi Wijaya yang memaparkan pentingnya integrasi data kebencanaan geologi dalam perencanaan ruang. Beliau mengatakan bahwa “Indonesia berada di kawasan rawan bencana geologi seperti gempa bumi, gunung api, tsunami, dan gerakan tanah. Maka dari itu, kebijakan tata ruang harus berbasis pada mitigasi risiko kebencanaan,”.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama sesi diskusi. Beberapa peserta aktif bertanya dan menjawab kuis, yang sekaligus menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman materi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ilmu geologi memiliki manfaat praktis yang luas, khususnya dalam penyusunan kebijakan tata ruang yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. “Informasi geologi harus tersedia sejak tahap awal perencanaan, agar pembangunan tidak justru menghasilkan kerugian di kemudian hari,” ujar Andiani saat menutup sesi kedua.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Museum Geologi tidak hanya berperan sebagai lembaga edukasi, tetapi juga menjadi ruang diskusi yang interaktif bagi semua pihak. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat implementasi tata ruang yang adaptif terhadap kondisi geologi serta responsif terhadap tantangan lingkungan masa depan.

Untuk update dan informasi dan kegiatan lainnya dari Museum Geologi, Anda bisa kunjungi dan ikuti media sosial resmi kami di museumgeologi.id, serta Instagram dan Tik Tok kami di @museum_geologi.

Museum Geologi: Smart Museum. Smart People. Smart Nation!

Editor: Anita Kusumayati, S.I.Kom.