Kembali ke Kegiatan

Bumi Punya Cerita: Memahami Karakteristik Batuan dan Wajah Alam Melalui Sains dan Teknologi

Edukasi / 08 July 2025
Bumi Punya Cerita: Memahami Karakteristik Batuan dan Wajah Alam Melalui Sains dan Teknologi
Penulis Omar Syah Gymnastiar

Pada hari Sabtu, 14 Juni 2025, Museum Geologi kembali menyelenggarakan Sarasehan Geologi Populer dengan tajuk “Memahami Karakteristik Batuan dan Wajah Alam”. Kegiatan ini dibuka untuk umum dan menjadi wadah untuk menyampaikan informasi mengenai Petrologi dan Geomorfologi  khalayak dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa hingga komunitas.

Kepala Museum Geologi, Raden Isnu Hajar Sulistyawan membuka acara dengan menekankan pentingnya relevansi geologi secara universal. “Mengenal karakteristik batuan dan wajah ala mini harus kita pahami sejak dini… tidak ada kata terlambat” ujar Isnu, menegaskan bagaimana memahami batuan dan pembentukan daratan berkontribusi pada kesadaran, kesiapan bencana, dan keberlangsungan lingkungan.

Sarasehan kali ini diisi oleh dua narasumber yaitu Dr. Aton Patonah, Dosen Teknik Geologi Universitas Padjajaran dan Fitriani Agustin, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi. Narasumber menyampaikan informasi tentang aspek fisik batuan dan penggunaan teknologi penginderaan jarak jauh modern dalam mengobservasi permukaan bumi yang terus berubah.

Aton Patonah menjelaskan bagaimana batuan itu akan selalu ditemukan di sekitar kita.  Dari yang kita injak, yang berada di pegunungan, hingga bahan bangunan. Aton menyampaikan klasifikasi batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf yang dapat dibedakan berdasarkan tekstur, struktur, dan kandungan mineral. “Kalau kita tahu karakteristik batuan, kita bisa berkontribusi menjaga lingkungan dan mitigasi bencana,” jelas Aton.

Aton juga menjelaskan pentingnya batuan di bidang ekonomi, terutama di industri seperti pertambangan, energi, dan metalurgi. Disampaikan juga bagaimana batubara, emas, nikel, dan berbagai sumber daya mineral lainnya terbentuk melalui proses geologi yang lama. “Kalau ingin tahu evolusi bumi, pelajarilah batunya. Setiap batuan mengandung bagian cerita yang mendalam tentang bagaimana bumi terbentuk.”, Aton menambahkan.

Narasumber selanjutnya adalah Fitriani Agustin yang memperkenalkan konsep Penginderaan Jarak Jauh, kemampuan untuk mempelajari permukaan bumi tanpa kontak secara langsung. “Sekarang kita cukup melihat dari jauh saja, makanya disebut pengindraan jauh,” ujar Fitri. Dengan menggunakan pencitraan satelit dan prinsip gelombang elektromagnetik, peneliti dapat menganalisis jenis batuan, bentuk daratan, hingga tanda-tanda bencana alam dari luar angkasa.

Untuk update, informasi, dan kegiatan lainnya dari Museum Geologi, anda bisa kunjungi dan ikuti media sosial resmi kami di museumgeologi.id, serta Instagram dan TikTok kami di @museum_geologi.

Museum Geologi: Smart Museum. Smart People. Smart Nation!

Editor: Anita Kusumayati, S.I.Kom.