Aliran lava basaltik yang lebih luas dari letusan Gunungapi Cumbre Vieja di Spanyol pernah membanjiri Subang Selatan? Topik ini dibahas pada Collection Talk ke-12 yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Februari 2023, pukul 09.00-10.30 WIB secara daring melalui Zoom dan Youtube Museum Geologi.
Acara yang digawangi host Paradita Kenyo ini mendapuk beberapa narasumber untuk mengupas topik yang bertajuk “Jejak Banjir Lava Tangkuban Parahu di Subang Selatan”. Para narasumber tersebut adalah Wilda Aini Nurlatifah, S.T., M.T., Penyelidik Bumi Museum Geologi, yang membuka diskusi dengan menjelaskan koleksi Museum Geologi yang menjadi fokus pada acara ini, yaitu batuan lava basalt vesikuler yang berasal dari Subang Selatan. Jenis batuan basalt dengan struktur khas lubang vesikuler memanjang ini merupakan batuan khas yang dapat ditemukan di Subang Selatan, tersebar mulai dari Ciater, Jalan Cagak, hingga Kasomalang. Selanjutnya, Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T. menambahkan, bahwa banjir lava ini diduga berasal dari aktivitas komplek Gunungapi Tangkuban Parahu. Aktvitas Gunung Tangkuban Parahu sudah berlangsung cukup lama, diperkirakan sekitar 1 juta tahun, nenek Gunung Tangkuban Parahu saat ini, yaitu Gunung Sunda, mulai terbentuk dan terus tumbuh hingga ketinggian sekitar 3.000-4.000 mdpl. Gunung Sunda kemudian meletus hebat hingga meninggalkan cekungan berbentuk mangkuk raksasa, disebut Kaldera Sunda, pada sekitar 500.000-250.000 tahun yang lalu. Aktivitas volkanisme terus berlanjut dan berulang hingga melahirkan Gunung Tangkuban Parahu yang saat ini bisa kita amati keindahannya.
Penjelasan kemudian disambung dari tim lapangan di Bukit Santiong, Sagalaherang, sebelah barat Ciater. Di sini Mohamad Galuh Sagara, S.T., menjelaskan tentang morfologi area di sebelah timur laut Komplek Gunung Tangkuban Parahu. Dari titik ini bisa terlihat Gunung Palasari dan Gunung Malang, berupa kerucut terpancung yang kemudian diidentifikasi sebagai gunungapi monogenetik, yaitu gunungapi yang hanya sekali meletus dan kemudian mati. Letusan gunungapi-gunungapi monogenetik ini diduga menjadi sumber aliran lava basaltik yang pernah membanjiri area Subang Selatan. Namun, tidak menutup kemungkinan sumber lava juga berasal dari kawah utama Gunung Tangkuban Parahu.
Lebih jauh lagi dijelaskan salah satu singkapan lava di Curug Picung, Kasomalang. Di sini singkapan lava terlihat dengan jelas berupa tebing air terjun. Pada bagian atas lava, terdapat struktur yang khas dari banjir lava ini, yaitu struktur vesikuler, yaitu lubang-lubang gas yang terperangkap di dalam lava. Lubang-lubang gas ini terbentuk ketika lava masih mengalir sehingga sempat tertarik dan berbentuk memanjang. Bagian tengah dan bawah lava tidak terdapat lubang vesikuler. Menariknya, pada tubuh lava ini terdapat kekar-kekar berlembar yang sangat intensif. Kekar ini berbentuk melengkung vertikal, memotong seluruh tubuh lava, dari bagian paling atas, yaitu bagian yang kaya lubang vesikuler, hingga ke bagian bawah.Kekar-kekar ini rupanya menjadi jalan masuknya air dari tanah di atasnya ke bagian bawah.
Di bawah lapisan lava, terdapat lapisan batupasir tufaan yang relatif kedap. Akibatnya, air tanah yang tadi meresap melalui kekar-kekar pada lava, terakumulasi di bagian kontak bagian bawah lava dengan batupasir tufaan ini. Hal ini membentuk akifer air tanah, yang kemudian muncul sebagai pancuran mata air di tebing samping Curug Picung.
Lebih lanjut, lapisan akifer ini diperkirakan masih menerus ke timur, mengikuti sebaran lava, dan kembali muncul ke permukaan sebagai mata air dengan debit besar di Cimincul. Di sini, Abdullah Husna, S.T., menjelaskan lebih lanjut tentang fenomena munculnya mata air Cimincul ini. Mata air Cimincul diperkirakan tergolong sebagai mata air kontak, yaitu mata air yang terbentuk karena adanya kontak antara akifer di atas dengan batuan kedap di bawahnya, namun butuh penyelidikan lebih lanjut untuk memastikannya. Mata air ini dimanfaatkan sebagai lokasi wisata pemandian dan sumber air irigasi.
Selain membahas koleksi Museum Geologi berupa lava basalt vesikuler, acara Collection Talk ini juga memberikan kesempatan pagi penonton untuk bertanya secara interaktif maupun melalui kolom diskusi. Penanya terbaik berhak memperoleh hadiah merchandise menarik yang disediakan oleh Museum Geologi. Acara kemudian ditutup dengan closing statement dari para narasumber dan pengumuman pemenang merchandise.