Acara Sarasehan Geologi Populer Museum Geologi Bandung kembali diselenggarakan pada tanggal 21 juni 2025 berjudul “Franz Wilhelm Junghuhn Berkelana di Pulau Jawa” Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali warisan ilmiah Junghuhn, seorang naturalistis Jerman yang terkenal akan observasi mendalamnya terhadap Pulau Jawa yang dibukukan dengan judul “Franz Junghuhn Berkelana di Pulau Jawa”.
Buku tersebut ditulis oleh Junghuhn dan diterjemahkan oleh Malik Ar Rahiem. Di dalamnya memuat tentang Lanskap Geografis, Keberagaman biologis, dan Budaya Lokal yang ada di Pulau Jawa. Acara ini dibuka untuk umum dan di datangi oleh khalayak luas dari pelajar, Mahasiswa, UMKM, dan pengunjung dari luar Bandung.
Kepala Museum Geologi Bandung, Raden Isnu Hajar Sulistiawan berkesempatan untuk membuka acara dan memberikan sambutan tentang pentingnya untuk memaparkan geologi kepada Masyarakat melalui narasi yang kaya akan sejarah. Beliau menyatakan kontribusi Junghuhn seharusnya tidak hanya terbatas untuk lingkaran akademis, namun dapat diakses oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan ilmiah.
Sarasehan Geologi Populer kali ini menghadirkan Muhammad Malik Ar Rahiem, penerjemah buku “Franz Junghuhn Berkelana di Pulau Jawa (1835-1839)” dan Ir. Sinung Baskoro, MT, mantan Kepala Museum Geologi. Malik membagikan pengetahuan nya tentang Junghuhn berdasarkan koneksi personal, dimana sedari kecil ia telah dipaparkan kisah Franz Junghuhn . “Saya dari kecil sudah terpapar dengan kisahnya Junghuh Namanya tuh melegenda di bandung” ujar Malik.Ia mengesankan tulisan Junghuhn sebagai puitis dan indah namun tetap berakar pada temuan ilmiah. “Cara dia bercerita tuh enggak hanya deskripsi yang ilmiah tapi juga deskripsi yang nyastra enak dibaca”, imbuh Malik.
Malik menceritakan expedisi Junghuhn pada tahun 1835-1839 di pulau Jawa dari gunung-gunung seperti Merapi dan Papandayan hingga hutan dan tebing terpencil. “Untuk bisa menembus jalan, dia minta bantuan Bupati Cianjur yang menurunkan 150 orang kuli. Tapi sayangnya mereka tidak pernah disebut dalam bukunya”, ujarnya. Meskipun ditemukan kesenjangan dalam sejarah tersebut, Malik juga menekankan pada keunikan yang terkandung dalam dokumentasi Junghuhn seperti sketsa, klasifikasi iklim, flora, dan struktur gunung api yang sangat berharga hingga saat ini.
Selanjutnya Ir. Sinung Baskoro, M.T. menyajikan perspektif ilmiah dalam paparannya. “Junghuhn ini adalah pelopor geologi dan botani di Jawa dan petanya merupakan peta topografi pertama yang komprehensif di pulau ini, skala 1:350.000”. Ia juga menyoroti klasifikasi zona iklim Junghuhn, yaitu panas, sedang, sejuk, dan dingin yang masih di ajarkan di Pendidikan Indonesia hingga saat ini.
Ir. Sinung membagikan kalimat filosofis yang terkandung dalam tulisan Junghuhn yang tidak terpublikasi: “Latih kekuatan tubuhmu dan perkuat dirimu. Sibukkan dirimu dan belajarlah. Jangan pernah kehilangan ketenangan. Jadilah kuat dan setia pada dirimu sendiri. Hormati alam. Lampaui yang biasa. Hiduplah untuk dirimu sendiri”, Sinung menyampaikan di akhir acara.

Sahabat, untuk update dan informasi dan kegiatan lainnya dari Museum Geologi, Anda bisa kunjungi dan ikuti media sosial resmi kami di museumgeologi.id, serta Instagram dan Tik Tok kami di @museum_geologi.
Museum Geologi: Smart Museum. Smart People. Smart Nation!
Editor: Anita Kusumayati, S.I.Kom.