Bertempat di Area Pojok Kolaborasi, Museum Geologi berkolaborasi dengan Geowana Ecotourism menghadirkan talkshow dengan tajuk “Geowisata Berbasis Konservasi” pada Senin, 26 Mei 2025. Kegiatan Pojok Kolaborasi yang diselenggarakan memberikan wadah bagi setiap lingkup masyarakat untuk mendapatkan edukasi serta kesempatan kolaborasi yang melibatkan kekayaan dan fenomena geologi sebagai daya tarik utama.
Narasumber yang hadir adalah, Gan Gan Jatnika dari Komunitas Geowana Ecotourism dan Visky Afrida Pungkisari, S.T. dari Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkuungan (PATGTL), Badan Geologi. Keduanya membagikan pengalaman dan pengetahuan seputar konservasi lingkungan dan pentingnya dalam setiap perjalanan wisata alam.
Didirikan pada tahun 2021, Geowana Ecotourism merupakan komunitas dan penyelenggara kegiatan wisata serta edukasi yang berfokus pada alam bebas dengan konsep wisata berkelanjutan. Mereka telah mengunjungi lebih dari 70 titik geologi di sekitar Bandung. ”Kegiatan kami bukan sekedar hiking biasa”, sebut Gan Gan. “Kami menyelipkan pemahaman tentang batuan, sejarah alam, bahkan mitos lokal, supaya peserta merasa lebih dekat dengan tanah yang diinjaknya”, imbuhnya.

Slogan mereka “Ngalalana Tatar Bandung“ mencerminkan pendekatan yang berakar pada lokalitas dengan menjelajahi kawasan Bandung dan mempelajari potensi alam dan sejarahnya. Gan Gan menegaskan bagaimana sosialisasi geologi melalui kegaitan wisata dapat memperbaiki kesalahpahaman tentang fitur geologi suatu daerah. Sebagai contoh, Salah satu peserta pendakian mempercayai bahwa terdapat raksasa purba yang tinggal di Goa Pawon. Namun kemudian disampaikan bahwa hal tersebut tidak benar berdasarkan data dan interpretasi selama pemanduan dalam tur di Goa tersebut.
Pada kesempatan yang sama Visky menekankan pentingnya konservasi geologi dalam pembangunan berkelanjutan. Ia menjelaskan konsep Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) sebagai bentuk perlindungan terhadap objek geologi yang unik dan bernilai ilmiah tinggi. “Sayangnya, wilayah Bandung belum punya kawasan yang ditetapkan sebagai KCAG, padahal potensinya luar biasa,” ujarnya. Kemudian Ia komunitas dan pemda untuk lebih proaktif mengusulkan kawasan yang memiliki potensi alam yang baik agar dapat dilindungi.
Pojok Kolaborasi menjadi jembatan antara ahli geologi dan komunitas awam. “Forum seperti ini penting agar bahasa ilmiah bisa disampaikan dengan populer,” ujar Kang Deni Sugandi, Ketua Pemandu Geowisata Indonesia. Ia mendorong adanya pertemuan rutin antara ilmuwan, pemandu dan wisatawan agar dapat lebih memahami tentang geologi. Acara ini juga menyoroti pentingnya edukasi publik yang disampaikan dengan cara menyenangkan. Museum Geologi berkomitmen mengadakan kegiatan seperti Pojok Kolaborasi untuk menyampaikan pengetahuan dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Literasi geologi yang baik dapat membuka mata masyarakat bahwa bumi ini punya cerita yang luar biasa,” ungkap Anita, pemandu acara pada kegiatan ini.
Untuk update dan informasi dan kegiatan lainnya dari Museum Geologi, Anda bisa kunjungi dan ikuti media sosial resmi kami di museum.geologi.esdm.go.id, serta Instagram dan TikTok kami di @museum_geologi. Museum Geologi:
Smart Museum. Smart people. Smart Nation!
Editor: Anita Kusumayati, S.I.Kom