Bandung. 16 Februari 2024. Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan pernyataan resmi dalam bentuk Konferensi Pers terkait Informasi Terkini Aktivitas Gunung Api Semeru pada Jumat (16/2) di Ruang Informasi PVMBG.
Hadir memberikan sambutan yaitu Sekretaris Badan Geologi, Iman Sinulingga. Dalam sambutannya Iman menyebutkan bahwa Badan Geologi akan selalu berkomitmen untuk menyampaikan informasi kegeologian khususnya kebencanaan kepada Masyarakat. “Ke depannya kami akan mengagendakan kegiatan serupa secara rutin”, tambah Iman.
Untuk memaparkan kondisi aktivitas Gunung Api Semeru juga hadir Kepala PVMBG, Hendra Gunawan dan Ketua Tim Gunung Api PVMBG, Heruningtyas. Dalam paparannya, Heruningtyas menyampaikan bahwa Gunung Api Semeru memiliki ketinggian 3.676 mdpl dan berada di Provinsi Jawa Timur serta terletak dalam 2 (dua) Kabupaten, yaitu Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Aktivitas Gunung Api Semeru berada pada level III (Siaga) sejak 16 Desember 2021. Saat ini aktivitas kegempaan di G. Semeru masih tinggi, didominasi gempa letusan, hembusan, guguran, dan tremor harmonic. Gempa vulkanik masih terekam secara intensif.
Kepala PVMG, Hendra Gunawan menambahkan bahwa potensi bahaya G. Semeru terletak pada kubah Lavanya. “Gunung Api Semeru secara kegempaan tampak monoton, namun kubah lava yang berada di puncaknya itu yang perlu diperhatikan karena memberikan dampak tambahan”, imbuh Hendra.
Mengingat kegiatan G. Semeru masih tinggi serta masih berpotensi terjadinya awan panas guguran dan aliran lava, maka Masyarakat di sekitar G. Semeru diharapkan dapat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya letusan dan awan panas guguran G. Semeru. Kemudian sehubungan dengan Tingkat aktivitas G. Semeru yang masih berada pada Level III (siaga), maka Badan Geologi melalui PVMBG merekomendasikan:
1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui PVMBG,
2. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun di sektor Tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 Km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, Masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi Sungai (sempadan Sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 Km dari puncak,
3. Masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak G. Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),
4. Masyarakat mewaspadai potensi awan panas, gugusan lava, dan lahar di sepanjang aliran Sungai/Lembah yang berhulu di puncak G. Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar dan Besuk Sat serta potensi lahar pada Sungai-sungai kecil yang merupakan anak Sungai dari Besuk Kobokan,
Supaya Masyarakat tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas G. Semeru, oleh karena itu selalu mengikuti arahan dari instansi berwenang yaitu Badan Geologi yang akan terus melakukan koordinasi dengan BNPB dan K/L, Pemda, dan instansi terkait lainnya. Sedangkan untuk update aktivitas G. Semeru dan gunungapi lainnya dapat diperoleh melalui aplikasi/website Magma Indonesia.
Sahabat, untuk update informasi dan kegiatan Museum Geologi. Ikuti terus official media sosial kami di museumgeologi.id, Youtube Channel di museum geologi, IG dan Tiktok kami di @museum_geologi. Museum Geologi.
Smart Museum. Smart People. Smart Nation!