Bandung, 11 Mei 2024. Museum Geologi menyelenggarakan kembali Ekskursi Geologi untuk Penguatan Kapasitas Pemandu Museum Geologi pada 8 – 10 Mei 2024. Kali ini ekskursi dilaksanakan di Karangsambung Bagian Selatan Kabupaten Kebumen dengan mengunjungi beberapa lokasi antara lain area sekitar Sendang Pelus, Gua Petruk dan Panti Ayah.
Narasumber dalam kegiatan ekskursi kali ini adalah Mohammad Galuh Sagara, Halmi Insani, Agustina dan Wilda Aini Nurlathifah. Keempatnya merupakan Penyelidik Bumi di Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM. Masing-masing menyampaikan materi untuk menguatkan wawasan kegeologian para pemandu Museum Geologi tentang Pegunungan Karangbolong. Hal ini terkait dengan informasi dan koleksi yang berada di Ruang Geologi Indonesia.
Supaya peserta ekskursi memahami bagaimana fenomena Pegunungan Karangbolong, maka narasumber menunjukkan terlebih dahulu Peta Geomorfologi dan Geologi Karangbolong. Untuk melihat wujud kenampakannya para peserta diajak ke lokasi pertama, dimana mereka dapat melihat secara langsung.

Gambar 1 Peta Geomorfologi dan Geologi Daerah
Pegunungan Karangbolong terbentang dari Selatan ke Utara mulai terbentuk pada Kala Oligosen, atau sekitar kurun waktu 35 juta tahun lalu. Di bagian Selatan, terbentang pegunungan yang tersusun atas batuan gunung api dari Formasi Gabon yang terdiri dari breksi volkanik, breksi lahar, batupasir kasar, masa dasar tuff lapilli. Kemudian di bagian Tengah kita dapa melihat fenomena bentangalam eksokarst dengan deretan perbukitan berbentuk kerucut tumpul atau disebut sebagai conical hills, yang umumnya tersusun atas batugamping Formasi Kalipucang. Lalu bagian utara terdapat pedataran bergelombang yang umumnya disusun oleh batuan sedimen Formasi Halang, yang terdiri dari perselingan batupasir, batulempung, napal, tuf dan sisipan breksi.

Gambar 2 Para peserta berfoto di lokasi pertama dengan dengan latar Pegunungan Karangbolong
Selanjutnya peserta beralih ke lokasi 2 yaitu Area Sekitar Mata Air Sendang Pelus di Kecamatan Buayan. Dalam ilmu kebumian, area ini termasuk unik karena terdapat fenomena intrusi batuan beku ke batugamping yang masih basah atau belum mengeras. Prosesnya sendiri terjadi di dalam air, yaitu di lingkungan laut dangkal, dimana magma menerobos ke permukaan dan mengalami percampuran dengan lumpur karbonat sehingga menghasilkan batuan yang disebut dengan peperite.

Gambar 3 Lokasi 2, tempat ditemukannya peperite. Tampak percampuran antara batuan beku dengan batugamping yang masih dalam kondisi basah.
Selain keunikan fenomena geologinya, terdapat hal menarik terkait dengan fauna dan budaya di Sendang Pelus ini. Terdapat mata air yang ke luar dari celah batu gamping di bawah perbukitan membentuk sebuah sendang yang memiliki garis tengah sekitar 5 m. Kemudian di dalam sendang tersebut hidup beberapa ekor ikan yang disebut pelus, bersembunyi di lubang-lubang sendang dan hanya menunjukkan diri bila pawangnya memberi makan. Kesukaan pelus-pelus ini nasi dan telor dadar.
Gambar 4 Pawang memberi makan ikan Pelus dengan nasi dan telor goreng menjadi atraksi menarik bagi pengunjung Sendang Pelus
Pelus akan muncul dengan malu-malu saat nasi dan telor dadar dilempar ke dalam sendang. Pelus sendiri bentuknya mirip ikan Bayong tapi dengan ukuran yang besar memanjang seperti ular dengan sisik kehitam-hitaman. Ikan ini dikeramatkan oleh warga sekitar sehingga tidak diperbolehkan untuk diambil ataupun dipancing.
Setelah melihat pelus yang misterius, para peserta selanjutnya beralih menuju lokasi 3 yaitu endapan lereng Formasi Halang, yang memperlihatkan adanya struktur slump pada tebing batuan sedimen. Dalam istilah geologi endapan lereng ini disebut dengan endapan turbidit. Endapan Turbidit merupakan jenis endapan sedimen yang diendapkan oleh mekanisme arus turbidit yang menuruni lereng dengan massa yang sangat besar di lingkungan bawah laut. Sehingga kenampakannya telihat seperti putaran air yang digerakan oleh turbin.

Gambar 5 Peserta mendengarkan penjelasan mengenai endapan turbidit, panah merah menunjukkan struktu slump
Dari lokasi 3, selanjutnya peserta berpindah ke lokasi 4, yaitu Goa Petruk. Secara administratif, goa ini terletak di Dusun Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah. Goa ini memiliki tiga ketinggian elevasi yang berbeda, yang terbentuk dari hasil pelarutan batugamping atau yang umum dikenal sebagai batukapur. Di dalam goa ini, mengalir sungai bawah tanah dengan ornamen gua berupa stalactite, stalagmite, dan flowstone yang memiliki bentuk-bentuk beragam dan unik.

Gambar 6 Ornamen dalam Goa Petruk, berupa stalactite dan stalagmite
Sama halnya dengan goa-goa karst lainnya, Goa Petruk terbentuk melalui proses alami. Batuan kapur terbentuk dari kalsium karbonat yang tidak mudah larut oleh air. Tetapi air hujan yang mengandung karbondioksida (hasil penyerapan udara dan tanah) dapat melarutkannya. Batuan kapur mempunyai karateristik yang khas yaitu banyak retakan-retakan horizontal maupun vertikal. Dan ketika air hujan masuk ke celah tersebut terjadi pelarutan sehingga, celah/retakan tersebut makin lama makin membesar. Kontrol pembentukan goa sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain karena perlapisan batuan; struktur rekahan; kontak litologi; curah hujan dan temperatur, serta penutupan lahan.

Gambar 7 Ilustrasi Proses Pembentukan Goa dan Kontrol Pembentukan Goa
Kawasan Karst merupakan fenomena geologi yang penting dan harus dilindungi, karena berperan dalam mengontrol perubahan iklim karena mampu mengikat karbon dioksida. Kemudian dengan sistem air bawah tanahnya, karst dapat menyimpan cadangan air bagi kebutuhan manusia.
Sebelum mengakhiri perjalanan ekskursi, para peserta diajak menuju lokasi 5 yaitu Pantai Logending yang terletak di Kecamatan Ayah, untuk melihat salah satu fenomena geologi berupa kehadiran mineral jasperoid pada beberapa rekahan batugamping yang tersingkap di tebing pantai tersebut. Jasperoid merupakan kelompok mineral yang terbentuk karena adanya larutan hidrotermal atau larutan sisa magma yang membawa mineral silika mengisi rekahan pada batugamping. Mineral silika tersebut kemudian menggantikan mineral karbonat (seperti kalsit) pada batugamping.

Gambar 8 Peserta mengamati fenomena geologi dengan penjelasan narasumber di Pantai Logending
Sahabat, untuk update informasi dan kegiatan Museum Geologi. Ikuti terus official media sosial kami di museumgeologi.id, Youtube Channel di museum geologi, IG dan Tiktok kami di @museum_geologi.
Museum Geologi. Smart Museum. Smart People. Smart Nation!