Bandung. 22 Maret 2024. Melanjutkan kegiatan edukasi di Bulan Ramadhan 2024, Museum Geologi kembali menyelenggarakan Sarasehan Geologi Populer dalam kemasan Ngabuburit Bersama Museum Geologi dengan judul Museum dan Poskolonialitas pada Selasa (21/3) di Auditorium Museum Geologi.
Hadir sebagai narasumber adalah Ari J. Adipurwawidjana, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD. Ari membuka pemaparannya dengan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan apakah dunia tempat kita menyimpan, membangun dan memelihara ingatan kolektif? apakah kita memiliki ingatan kolektif untuk mencipta dunia? apakah dunia yang dapat kita cipta(kan) itu dunia kita sendiri, atau dunia yang diwarisi dari pihak lain (kolonial)? dapatkan kita mengupayakan agar museum menjadi tempat kita merakit, membangun, dan memelihara ingatan dan dunia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita melihat kembali ke masa lalu, dimana banyak sekali ingatan atau Dunia kita yang dibentuk oleh pihak lain melalui kolonialisasi. Namun pada perjalanannya, banyak timbul resistensi atas ingatan tersebut hingga muncul perlawanan terhadap kolonialisme sehingga muncul dekolonisasi secara formal yang berkembang menjadi dekolonisasi internal, kemudian semua nya bermuara pada Poskolonialitas.
Kemudian Dimana letaknya Museum dalam proses menuju Poskolonialitas? Ari menyampaikan bahwa Museum untuk Rekoleksi dan (Re-)Collection. Collect mengarah pada Select, elect, lecture, dan eclectic yang semuanya mengarah pada makna “mengumpulkan”. Kemudian (Re-)Collection merupakan tindakan memanggil kembali ke ingatan kita. “Museum diharapkan bisa seperti itu, supaya ingatan kita itu adalah ingatan yang dismpan di dalam ingatan kita, membantu dalam proses mental untuk menghidupkan kembali gagasan. Kemudian Museum sebagai media rekoleksi untuk berkhalwat, menjauhkan diri dari keramaian dan hiruk pikuk untuk berkontemplasi atas siapa diri kita, pengetahuan kita dari mana, apa yang kita miliki”, imbuh Ari.
Pada akhir presentasinya, Ari mengingatkan kembali para audien dengan pertanyaan “Dapatkah kita mengupayakan agar museum menjadi tempat kita merakit, membangun, dan memelihara ingatan dan dunia?” Jawabannya terletak pada masing-masing peserta yang hadir pada Ngabuburit tersebut. Akan kah mereka terus terlena dengan ingatan yang diciptakan pihak lain, atau kita membangun dan mencipta ingatan yang berasal dari diri kita sendiri.
Sahabat, kegiatan Ngabuburit di bulan Ramadhan 2024 ini akan digelar kembali untuk masa yang akan datang. Bagi yang ingin memperbaharui informasi acara Ngabuburit dan kegiatan Museum Geologi lainnya silakan mengikuti media sosial kami di laman resmi Museum Geologi yaitu museumgeologi.id, IG dan Tiktok di @museum_geologi.
Museum Geologi. Smart Museum. Smart People. Smart Nation!