Bandung, 3 April 2023. Masih dalam rangkaian kegiatan “Ngabuburit Bersama Museum Geologi”, pada hari Senin (3/4) bertempat di Auditorium Museum Geologi digelar kegiatan dengan tema “AMALAN RAMADHAN (Aksi Menulis Al-Qur’an di Bulan Ramadhan)”. Kegiatan ini dihadiri oleh pegawai Museum dan masyarakat umum serta dimulai pada pukul 15.30 WIB.
Hadir sebagai narasumber, Ustadz Ahmad Qomaruddin, pengajar Al-Qur’an yang juga seorang trainer Qur’an Qordoba. Beliau menyapaikan bahwa selain menghafal, Al-Qur’an pun penting untuk ditulis. Karena manfaat menulis Al-Qur’an bagi diri kita dapat meningkatkan semangat mempelajari Al-Qur’an, dapat menguatkan hafalan Al-Qur’an dan melalui tulisan yang kita buat, kelak akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita pernah menjadi hamba yang pernah mempelajari Al-Qur’an.
Perintah untuk mempelajari Al-Qur’an sendiri telah dijelaskan dalam Surat Al Alaq ayat 1 – 4. “ 1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, 2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, 4) Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Berdasarkan keempat ayat tersebut telah diperintahkan kaum muslimin untuk membaca dan menulis. Menulis dalam hal ini sangat penting, sesuai dengan Tafsir At-Tasyir yang menjelaskan bahwa, “ Diantara anugerah Allah adalah mengajarkan ilmu manusia dengan perantara pena. Sebagian ahli tafsir menyatakan, Allah menyebutkan pena karena pada zaman bangsa Arab dahulu mereka lebih mengutamakan hafalan. Mereka bisa menulis tetapi mereka jarang menulis, karena hafalan mereka kuat. Kemudian Allah menyebutkan bahwasanya diantara ajaran Allah kepada manusia adalah tulisan”.
Adanya mushaf Al-Qur’an sendiri adalah upaya untuk menjaga Al-Qur’an, selain dari menghafalnya. Penulisan Al-Qur’an dimulai pada zaman Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian disusun dan dibuat mushaf pada zaman Sahabat Ustman bin Affan.
Jika menilik kembali, sejarah awal penjagaan Al-Qur’an melalui beberapa tahap yaitu baca dari hafalan, baca dari tulisan, dan baca dari hafalan dan tulisan. Adapun Sahabat Nabi yang bertugas untuk menulis Al-Qur’an adalah Zaid bin Tsabit, Muawiyan bin Abi Sufyan, Ubay bin Ka’ab, dan Zubair bin Awwam.
Al-Qur’an memiliki nama lain yaitu Al-Kitab. Al-Qur’an secara bahasa memiliki arti membaca, sedangkan Al-Kitab berarti tulisan. Pada awal penulisan Al-Qur’an, khat (seni menulis Arab) yang digunakan adalah Kufi. Sedangkan saat ini, banyak Al-Qur’an yang menggunakan khat naskhi karena tulisannya sangat indah dan mudah dibaca oleh siapapun. Khat Naskhi pertama dipopulerkan oleh Ibnu Muqlah.

Al-Qur’an layaknya manual book kehidupan manusia terutama Muslimin. Di dalamnya terkandung akidah, ibadah dan muamalah, hukum , sejarah, akhlak, dan ilmu pengetahuan. Allah menjamin kemudahan bagi orang-orang yang ingin mempelajarinya sesuai yang tercantum dalam surat Al Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40. Menulis Al-Qur’an memiliki keutamaan, yaitu:
1. Memperkuat hafalan dan daya ingat,
2. Melatih berfikir sistematis,
3. Mendatangkan ketenangan dan ketundukan pada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
4. Meningkatkan kemampuan kognitif,
5. Menghayati sejarah
Selain itu, dengan menulis Al-Quran menjadi sarana kaum muslimin untuk bermuhasabah. Menilik perbuatan kita pada masa lalu dan masa kini, apakah sudah baik atau buruk. Dengan muhasabah diri, membantu kita untuk meningkatkan perbuatan baik depan supaya lebih baik dari sekarang, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Sahabat yang ingin mengetahui lebih lanjut informasi acara ini dapat mengakses media sosial Museum Geologi di IG: @geomuzee, FB: Sahabat Museum Geologi, Youtube channel: Museum Geologi, dan website: museumgeologi.id