Kembali ke Kegiatan

Pembekalan Materi Pemandu Museum Geologi di Bandung Utara dan Subang Selatan

Ekskursi Geologi / 10 February 2023
Pembekalan Materi Pemandu Museum Geologi di Bandung Utara dan Subang Selatan
Penulis Rifaldi Efriansyah, S.Pd.

Bandung (22-23/1/23), Pemandu dan Petugas Pelayanan Publik di Museum Geologi melaksanakan ekskursi geologi “Pembekalan dan Penyegaran Materi Pemanduan”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dalam pelayanan publik di Museum Geologi. Di mana sebelumnya, telah terlaksana dua pembekalan materi pemanduan untuk ruang pamer Geologi Indonesia dan ruang pamer Sejarah Kehidupan. Materi tematik kali ini adalah ruang pamer Manfaat dan Bencana Geologi dan ruang pamer Sumber Daya Geologi yang terletak di lantai dua Museum Geologi.

Lokasi ekskursi berada di Bandung utara dan Subang selatan yang dianggap representatif serta efisien untuk melihat secara langsung fenoma, potensi bencana, manfaat dan eksploitasi kegeologian. Sebelum melaksanakan ekskursi lapangan, peserta terlebih dahulu mendapat peragih materi dari narasumber di ruang pamer terkait. Narasumber pada kegiatan ini adalah Penyelidik Bumi Madya di Museum Geologi, Johan Budi Winarto, S.T., M.T. dan Penyelidik Geologi di Museum Geologi, Mohamad Galuh Sagara, S.T.

Ekskursi dimulai dengan keberangkatan pada pagi hari, tujuan pertama yakni segmen Gunung Batu yang berada di Lembang. Segmen ini merupakan bagian dari sesar Lembang berupa sebuah gawir yang menghadap ke utara dan tersusun atas batuan beku andesitik (Brahmantyo dan Bachtiar:2009). Jenis batuan andesit Gunung Batu berupa korok (dyke) yang menerobos miring ke arah utara. Pada kesempatan ini narasumber menjelaskan fenomena sesar Lembang yang memanjang dari arah barat ke timur dengan panjang sekitar 29 km, serta potensi bencana yang bisa ditimbulkan oleh sesar Lembang dan penanggulangannya atau mitigasi. Selain mendapatkan penjelasan dari narasumber, peserta dapat memerhatikan secara langsung geomorfologi cekungan Bandung dari ketinggian Gunung Batu.

Lokasi ekskursi Gunung Batu, foto: Mirza Pratomo

Selanjutnya kelompok ekskursi bergegas menuju sebuah gunung yang melegenda di Bandung, yakni gunung Tangkuban Parahu yang terkenal akan geomitologi Sangkuriang. Peserta pertama-tama diajak unutk menyaksikan kawah Ratu dan kawah Upas. Tampak bentangan kawah terlihat dengan jelas dan di sisi lain terlihat sebuah pipa vulkanik sisa erupsi yang terjadi pada 2019 silam dan sampai saat ini masih mengeluarkan gas solfatara. Pada lokasi ini peserta mendapatkan penjelasan tentang vulkanisme, dari mulai sejarah gunung Tangkuban Parahu, tipe-tipe letusan dan morfologi gunung api, batuan vulkanik, proses pembentukan mineral hingga sifat-sifat fisik mineral.

Lokasi ekskursi gunung Tangkuban Parahu, foto: Mirza Pratomo

Beralih menuju lokasi ketiga yaitu curug Karembong yang berada di area wisata Capolaga. Lokasi ini merupakan manifestasi dari sebuah geowisata, pemanfaatan objek geologi untuk pariwisata. curug atau air terjun Karembong terbentuk dari aliran lava gunung Tangkuban Parahu puluhan ribu tahun silam. Selain air terjun ini, di area wisata Capolaga terdapat pula dua air terjun lain yang lokasinya tidak terlalu jauh, kedua air terjun ini adalah curug Sawer dan curug Goa Badak. Ketika dikunjungi, curug Sawer memiliki kapasitas air yang lebih sedikit dibanding curug Karembong. Penampakan menarik ada pada curug Goa Badak, di samping dinding curugnya terlihat cekungan yang membentuk goa, yang dijuluki goa Badak. Lokasi di kawasan curug Karembong ini menjadi lokasi terakhir di hari pertama kegiatan ekskursi.

Lokasi ekskursi curug Karembong, foto: Mirza Pratomo

Ekskursi berikutnya dilanjutkan di hari kedua, menuju lokasi keempat yaitu bentangan gunung api monogenetik. Lanskap ini tampak seperti bukit – bukit kecil, tetapi pada pembentukannya melalui proses erupsi yang hanya terjadi sekali (puluhan ribu tahun silam) dan kemudian menjadi gunung api mati. Pada lokasi ini dijelaskan bagaimana proses terbentuknya gunung monogenetik dan potensi untuk pemanfaatannya di masa sekarang.

Lokasi ekskursi bentangan gunung api monogenetik, foto: Mirza Pratomo

Kemudian lokasi kelima berada di area eksploitasi batuan beku jenis basalt milik suatu perusahaan tambang yang mengolahnya menjadi batu belah, batu split, dan agregat. Selama berada di lokasi tambang, seluruh peserta mengenakan helm sebagai prosedur keamanan. Lokasi ini representatif dalam pemanfaatan sumber daya geologi, selain itu, di tempat ini juga terdapat singkapan batuan dari lelehan lava. Di lokasi ini, narasumber menjelaskan perbedaan bentuk tiap-tiap bagian batuan dari lapisan paling atas hingga dasar singkapan serta potensi yang dapat membaru dari bentuk singkapan tersebut. Pada lokasi ini dijelaskan pula tentang sistem batuan yang berbentuk akuifer dan perbedaannya dengan akuifug.

Lokasi ekskursi tambang batu basalt, foto: Mirza Pratomo

Lokasi terakhir yaitu sumber mata air Cimincul. mata air ini berlokasi di Kasomalang, Kabupaten Subang. Tempat ini terkenal sejak akhir tahun lalu, karena banyak dijadikan bahan konten media sosial. Mata air Cimincul menjadi model untuk lapisan akuifer yang terdapat di bawah tanah, mengandung dan mengalirkan air. Mata air ini terus mengalir dan tidak habis atau pun surut meski di musim kemarau. Mata air ini memiliki kedalaman sekitar 3 meter dan tampak sebuah lubang tempat membualnya air di kolam. Kawasan ini telah menjadi area wisata alam dan juga wahana berenang dengan air yang menyegarkan. Selain itu kita juga dapat menikmati kuliner khas Sunda yang dikelola oleh warga sekitar.

Lokasi ekskursi mata air Cimincul, foto: Dian Nurdiansyah

Ekskursi di Bandung utara dan Subang selatan berlangsung selama dua hari dengan sejumlah materi yang diberikan, hal ini telah memberi kesempatan bagi pemandu dan pelayan publik Museum Geologi memiliki banyak pengalaman dan penalaran saintifik sehingga mampu menginterpretasi lebih baik setiap koleksi maupun infografis yang diperagakan pada ruang pamer kepada pengunjung museum.

Penulis: Rifaldi Efriansyah (Staff Edukasi Informasi), Asri Ratnasari (Pemandu)

Bacaan:

Brahmantyo, B., dan Bachtiar, T., (2009), Wisata Bumi Cekungan Bandung, Bandung: Truedee Pustaka Sejati,