Kembali ke Kegiatan

Penurunan Tanah Di Pantura Jawa: Haruskah Kita Cemas?

Edukasi / 08 July 2025
Penurunan Tanah Di Pantura Jawa: Haruskah Kita Cemas?
Penulis Ghefira Salsabillah

Kamis, 19 Juni 2025, Museum Geologi mengadakan kegiatan “ Sarasehan Geologi Populer “ (SGP) di Auditorium Museum Geologi dan kali ini mengangkat tema “ Penurunan Tanah di Pantura Jawa”. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Prahara Iqbal dari BRIN dan Risna Widyaningrum S.T., M.T. dari Badan Geologi.Kegiatan yang dihadiri oleh guru, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap fenomena geologi yang tengah terjadi secara masif di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, yaitu penurunan muka tanah (land subsidence).

Fenomena penurunan muka tanah atau land subsidence telah menjadi perhatian serius di wilayah pesisir utara Jawa, seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak. Kejadian ini mengakibatkan genangan air permanen, kerusakan infrastruktur, hingga pemukiman yang tak layak huni. “Penurunan tanah ini memang terjadi lambat, tapi dampaknya nyata dan terus berkembang,” ujar Iqbal. Kepedulian terhadap penurunan muka tanah bukanlah isu baru. Badan Geologi telah melakukan pemantauan sejak tahun 1992. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, intensitas penurunan makin tinggi dan dampaknya makin terasa oleh masyarakat. Kepala Museum Geologi, Raden Isnu Hajar Sulistyawan S.T., M.T, menyampaikan dalam sambutannya bahwa fenomena ini sudah menjadi isu internasional yang tidak bisa diabaikan.

Pantura tercatat sebagai wilayah terdampak terparah. Di Pekalongan, penurunan tanah mencapai lebih dari 5 cm per tahun, bahkan pada titik tertentu bisa menyentuh angka 12 cm. “Kondisi di beberapa titik sangat mengkhawatirkan. Bahkan ada sekolah yang terendam dan banjirnya tak kunjung surut,”  Ujar Risna.

Penurunan muka tanah disebabkan oleh faktor geologi dan aktivitas manusia, seperti eksploitasi air tanah yang berlebih dan beban bangunan. Dr. Iqbal menyebutnya sebagai “ancaman tak terlihat” dan menambahkan, “Kalau di daerah itu tidak ada manusia, penurunan tanah hanya dianggap peristiwa alam. Tapi ketika ada pemukiman, ia jadi bencana.” Ungkapnya.

Dampaknya sangat luas mulai dari ekonomi, sosial, hingga kualitas hidup. “Banyak warga harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah per tahun hanya untuk menguruk rumah agar tidak kebanjiran,” tutur Risna. Di sisi lain, ada yang tetap tinggal meski rumahnya terus terendam karena tidak memiliki pilihan lain.

Lantas haruskah kita cemas? Cemas adalah wajar, tapi diam bukanlah solusi. “Kita tidak bisa menunda lagi. Edukasi dan kolaborasi adalah kunci,” tegas Iqbal. Museum Geologi berharap melalui sarasehan ini dapat menyebarluaskan kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan geologi lingkungan. Karena sejatinya, menjaga bumi berarti menjaga kehidupan kita sendiri.

Untuk update dan informasi dan kegiatan lainnya dari Museum Geologi, Anda bisa kunjungi dan ikuti media sosial resmi kami di museumgeologi.id, serta Instagram dan Tik Tok kami di @museum_geologi.

Museum Geologi: Smart Museum. Smart People. Smart Nation!