Bertempat di area Pojok Kolaborasi, acara kali ini merupakan kerja sama Museum Geologi dan Himpunan Penyelidik Bumi Indonesia (HIPBINDO). Tema yang diangkat adalah Sesar Aktif di Jawa Barat. Tema ini dirasa masih hangat mengingat kejadian dua gempa bumi di Jawa Barat, yaitu gempa bumi Cianjur 21 November 2022 dan gempa bumi Sumedang 31 Desember 2023. Narasumber ahli gempa bumi yang diundang ialah Dr. Supartoyo, S.T., M.T. dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi.
Supartoyo menjelaskan bahwa sesar adalah bidang diskontinu atau retakan pada kerak bumi yang mengalami pergeseran. Jika tidak bergeser, retakan tersebut disebut kekar. Berdasarkan pergeseran relatifnya, sesar dibagi menjadi 3, yaitu sesar naik, sesar normal, dan sesar mendatar. Ketiga jenis pergerakan ini dapat menghasilkan gempa bumi. Sementara itu, berdasarkan tingkat aktivitasnya, sesar dibagi menjadi sesar aktif, sesar potensi aktif, dan sesar inaktif. Sesar aktif adalah sesar yang pernah mengalami pergerseran semenjak 11.000 tahun yang lalu. Sesar potensi aktif adalah sesar yang pernah bergeser pada rentang 11.000 – 1.800.000 tahun yang lalu. Sesar inaktif adalah sesar yang pergeseran terakhirnya lebih tua dari 1,8 juta tahun yang lalu.

Di Jawa Barat sendiri terdapat beberapa sesar aktif, di antaranya ialah Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, Sesar Lembang, Sesar Cugenang, Sesar Cipeles, Sesar Cileunyi - Tanjungsari, Sesar Garut Selatan (Garsela), dan potensi aktif seperti Sesar Cikondang. Sesar aktif dicirikan oleh adanya aktivitas kegempaan dengan kedalaman hiposenter dangkal (kurang dari 40 km), dari morfologi atau bentang alam terlihat adanya sungai yang terpotong yang ditandai oleh kelokan 2 atau 3 yang seragam, tanda lainnya adanya kelurusan dari lembah dan tekuk lereng,dan adanya lapisan sedimen yang terpotong. Ada 2 jenis peralatan yang digunakan untuk mengukur keaktivan sesar: seismograf dan GPS. Seismograf digunakan untuk mengukur dan merekam aktivitas kegempaan sesar. Sensornya disebut seismometer dan hasil catatan gempanya disebut seismogram. Sementara itu, GPS yang digunakan ialah jenis GPS Geodetik yang bisa mengukur pergeseran dengan akurasi hingga milimeter.
Daerah di jalur sesar aktif seharusnya tidak digunakan untuk permukiman ataupun pembangunan lainnya. Hal ini karena tingginya risiko kegempaan di sana. Kekuaatan gempa bumi biasanya diukur dengan skala Magnitudo, sementara itu kuatnya guncangan gempa yang dirasakan diukur dengan skala MMI. Kuatnya guncangan gempa yang dirasakan di suatu tempat dipengaruhi beberapa hal, salah satunya ialah kekuatan batuan di lokasi tersebut.
Untuk mengurangi risiko dampak gempa bumi, selain menghindari pembangunan di jalur sesar aktif, mitigasi gempa bumi juga bisa dilakukan secara struktural berupa pembangunan bangunan tahan gempa dan nonstruktural yaitu dengan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mitigasi gempa bumi. Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika gempa terjadi adalah melindungi kepala, misalnya dengan berlindung di bawah meja yang kokoh; menghindari kaca karena rawan pecah saat terjadi gempa; dan lari ke tempat yang lapang dan menghindari bangunan tinggi ataupun pohon.

Pada acara Pojok Kolaborasi, selain paparan, peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber dan berdiskusi. Selain hadir secara langsung, Pojok Kolaborasi ini juga dapat dinikmati melalui Youtube Museum Geologi.
Sahabat, untuk update informasi dan kegiatan Museum Geologi. Ikuti terus official media sosial kami di museumgeologi.id, IG dan Tiktok kami di @museum_geologi, serta Youtube Channel kami di Museum Geologi.
Museum Geologi. Smart Museum. Smart People. Smart Nation!