Mengulik Pesona Morfologi Lava Gunung Batur – Bali
Tahukah sahabat Museum Geologi, magma yang keluar ke permukaan bumi atau yang disebut sebagai lava memiliki bentuk-bentuk (morfologi) yang beraneka macam, diantaranya ada yang berskala kecil, seperti alira lava yang menyerupai bantal (pillow lava), tali (ropy lava), dan lava blok/lava berbongkah (blocky lava).
Adapula aliran lava yang menghasilkan morfologi berskala besar berupa gua lava (lave cave), lorong lava (lava tube), saluran lava (lava channels), dan tanggul lava (lava levees). Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan sifat-sifat kimia dari magma, serta “rheologi lava” (perubahan bentuk dan aliran lava sebagai respon penerimaan tekanan dan tegangan) pada saat mengalir di permukaan. Selain itu perbedaan suhu yang signifikan antara lava (lava yang mengalir di permukaan bumi umumnya bersuhu 800 – 1200°C), dengan suhu permukaan bumi (suhu rata-rata permukaan bumi 14 – 22°C) juga memegang peranan penting dalam proses pendinginan lava.
Gunungapi Batur di Kintamani – Bali, merupakan salah satu gunungapi aktif di Indonesia yang memiliki morfologi lava yang sangat beragam dan patut dijadikan sebagai laborotaorium alam gunungapi. Morfologi lava yang dijumpai di daerah ini ada yang berskala besar maupun berskala kecil seperti yang dijumpai di Mauna Loa (Hawaaii) dan Etna (Italia), diantaranya gua lava dan lorong lava, saluran lava, lava blok, lava tali, lava bantal dan tumuli. Bentukan-bentukan tersebut dihasilkan oleh erupsi-erupsi yang terjadi dalam kurun waktu 200 tahun terakhir, yang umumnya didominasi oleh letusan tipe Stromboli yang kadang – kadang disertai dengan hujan abu ringan, dengan atau tanpa disertai oleh leleran lava bersusunan basal dengan komposisi silika berkisar 50 - 54% (Sutawidjaja, 1990). Sedikitnya, 25 letusan telah dicatat terjadi sejak 1800-an disertai oleh leleran lava pada tahun 1849, 1888, 1904, 1905, 1921, 1926, 1963, 1968 dan 1974 (van Padang, 1951; Kusumadinata, 1979; Gambar 1).
Gambar 1. Sebaran aliran lava G. Batur (sumber data : Peta Geologi Kardera Batur, 1992 terbitan Direktorat Vulkanologi).
Lorong Lava (Lava Tube) dan Gua Lava (Lava Cave)
Lorong lava, atau pyroduct merupakan saluran alami yang terbentuk dari aliran lava gunungapi yang mengalir di bawah permukaan aliran lava yang bagian permukaannya telah mengeras (membentuk kerak atau karapas). Jika aliran lava di dalam lorong lava telah habis, maka akan meninggalkan sebuah gua.
Lorong lava terbentuk karena saat pertama kali keluar dan mengalir di permukaan, lava sangat mobile, namun karena perbedaan suhu yang sangat signifikan antara lava dan suhu permukaan, menyebabkan bagian luar aliran lava akan mendingin dan mengeras membentuk kerak atau selubung tabung, sementara bagian dalam masih berupa lava cair yang terus mengalir hingga meninggalkan ruang kosong di bawahnya, hingga pada akhirnya kerak luar yang tersisa akan membentuk dinding, langit-langit, dan lantai Goa.
Setidaknya terdapat 6 lokasi lorong lava yang telah teridentifikasi di sekitar kawasan Gunung Batur (Gambar 2). Temuan tersebut tentunya sangat bernilai pedagogik bagi masyarakat umum.
Gambar 2. Lorong lava di daerah Kintamani
Saluran Lava (Lava Chanel)
Berbeda dengan lorong lava, saluran lava terbentuk dari aliran lava yang tipis, dimana bagian pinggir lava membeku terlebih dahulu membentuk tanggul sedangkan bagian tengah masih mengalir. Pada saat aliran lava ini membeku, aliran lava baru dapat mengalir melalui saluran yang sama membentuk tanggul lava yang lebih tinggi (Gambar 3).
Gambar 3. Kenampakan saluran lava 1849 dari kejauhan membentuk morfologi yang unik (kiri) dan saluran lava 1904 (kanan)
Lava Berbongkah (Blocky Lava)
Lava berbongkah merupakan tipe lava yang memperlihatkan tekstur permukaan sangat kasar, berbongkah-bongkah dengan diameter mencapai 3 – 5 m, bagian atas umumnya memperlihatkan tonjolan-tonjolan kasar fragmen dari lava atau yang disebut autobreksi. Sedangkan bagian tengah tubuh lava sangat masif, dengan struktur vesikuler (berlubang) pada bagian atasnya. Lubang-lubang tersebut umumnya berbentuk ellips, dimana sumbu terpanjangnya menunjukkan arah aliran lava (Gambar 4). Mendekati bagian dasar, aliran lava akan memperlihatkan kenampakan autobreksi seperti pada bagian permukaan tetapi ukuran fragmennya lebih kecil.
Apabila aliran lava cukup tebal, di bagian tengah dapat terbentuk kekar kolom (columnar joint), sedang di bagian bawah dapat membentuk kekar lembar (sheet joint). Morfologi aliran lava umumnya mengikuti bentuk bentangalam awal yang dilaluinya.
Gambar 4. Kenampakan lava berbongkah (kiri), dan morfologi lava berbongkah dimana bagian atas memperlihatkan struktur vesikuler dan bagian bawah berupa lava masif
Lava Tali (Ropy Lava)
Lava tali (ropy lava), atau disebut juga lava pahoehoe, merupakan aliran lava yang kenampakan permukaannya relatif lebih halus, dan jikalau dilihat dari atas bentuknya menyerupai pilinan tali. Jika dilihat dari depan, kenampakannya relatif membulat, dan memanjang ke belakang mirip tumpukan tali besar yang saling tumpang tindah.
Lava tali terbentuk dari aliran lava pāhoehoe, yang memiliki suhu antara 1.100 – 1.200 derajat C, dan relatif encer, sehingga panjang alirannya dapat mencapai puluhan kilometer dari pusat letusan. Lava pāhoehoe mengalir dengan suhu yang sangat panas. Tebal alirannya relatif tipis, antara 1-2 m. Kerutan permukaan lava yang menyerupai tali terbentuk pada saat lava mengalir ke permukaan menyebabkan terjadinya pendinginan pada bagian luar akibat perbedaan suhu yang signifikan, mengerut dan melipat, dan bagian dalam perlahan mengeras membentuk gulungan yang menyerupai tali (Gambar 5).

Gambar 5. Ropy lava (lava tali) di daerah Kintamani
Lava Bantal (Pillow Lava)
Lava bantal merupakan lava yang memiliki bentuk (morfologi) menyerupai bantal guling (atau berbentuk ellips) yang terputus-terputus, yang terbentuk pada saat aliran lava terjadi di dalam atau masuk ke dalam tubuh air, baik di laut maupun di danau. Bentuknya yang menyerupai bantal terjadi karena adanya perbedaan suhu yang sangat signifikan antara lava yang mengalir ke permukaan dengan suhu permukaan (tubuh air). Perbedaan suhu tersebut menyebabkan bagian depan aliran lava (disebut lidah lava) mendingin dengan cepat membentuk kerak pada permukaan. Apabila tekanan pada bagian dalam lava yang masih cair semakin besar, maka akan memecahkan kerak luar, dan lava yang masih cair akan mengalir keluar. Proses tersebut akan terus berlanjut hingga aliran lava berhenti menghasilkan serangkaian lava berbentuk ellips yang saling berhubungan menyerupai bantal.
Di daerah Kintamani, lava bantal dijumpai di pinggir Danau Batur, yang hanya terlihat pada saat air danau surut (Gambar 6).

Gambar 6. Kenampakan singkapan Pillow lava (lava bantal) di pinggir Danau Batur
Tumuli (Blisters)
Tumuli merupakan suatu bentukan morfologi lava, berupa bongkah lava yang bentuknya mengembung, dengan bagian atas yang pecah-pecah. Tumuli terbentuk ketika aliran lava meluap di bawah permukaan kerak tipis (kulit) lorong lava, yang menyebabkan kerak lorong lava di atasnya melengkung dan menonjol. Gumpalan lava cair tersebut kemudian merembes keluar dari retakan yang baru saja terbentuk pada kerak lava, mendingin dan membentuk struktur yang unik pada permukaan lava (Gambar 7).

Gambar 7. Kenampakan tumuli di daerah Kintamani
Kipuka Sampeanwani
Kipuka Sampeanwani merupakan suatu tinggian berupa bukit kecil terisolasi, yang dikelilingi oleh aliran lava Batur tahun 1963. Jika dilihat dari arah Penelokan dan Pure Pasar Agung - Kintamani, tinggian ini memiliki kenampakan yang sangat kontras dengan vegetasi lebat berwarna hijau, diantara hamparan lautan lava berwarna hitam nan gersang (Gambar 8).
Kipuka dapat terbentuk, ketika lava yang lebih muda mengalir mengelilingi kedua sisi bukit, punggungan, atau kubah lava yang lebih tua , menyisakan sebuah morfologi unik berupa tinggian diantara lautan aliran lava.
