Ilmiah

Menjawab Teka Teki Meteorit Nganjuk

01 March 2024 Wilda Aini Nurlatifah, S.T., M.T.
Menjawab Teka Teki Meteorit Nganjuk
Ringkasan Pada tahun 2022 dan 2023, salah satu anggota Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk, Jawa Timur, Pak Suprianto, menemukan batuan-batuan yang diduga meteorit dan melaporkan penemuan tersebut ke Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk

Di antara banyak batuan yang ditemukan di Bumi, terdapat batuan yang jarang diketahui banyak orang namun menarik untuk dipelajari. Batuan langka ini ialah meteorit, benda padat yang berasal dari luar angkasa yang jatuh ke Bumi. Banyak orang yang tidak mengetahui perbedaan meteorit dengan batuan di Bumi, karena diperlukan analisis yang mendalam untuk memastikannya.

Pada tahun 2022 dan 2023, salah satu anggota Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk, Jawa Timur, Pak Suprianto, menemukan batuan-batuan yang diduga meteorit dan melaporkan penemuan tersebut ke Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk. Kemudian, Disporabudpar mengajukan permohonan verifikasi atas temuan tersebut kepada Museum Geologi. Menjawab permohonan tersebut, Museum Geologi kemudian mengirimkan tim untuk memeriksa kondisi temuan tersebut di lapangan, tepatnya pada bulan Februari 2024.

Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk atau biasa disebut “Kota Sejuk”, mengaku sudah lama mengumpulkan temuan batuan yang unik dan juga fosil di Kawasan Hutan Tritik, yang dijumpai di sekitar aliran-aliran sungai, di antaranya Kali Bringin. Terdapat banyak batuan yang disimpan oleh anggota Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk. Tim Museum Geologi kemudian melakukan pemerian secara megaskopis dan juga melakukan pemeriksaan dengan alat XRF handheld terhadap seluruh temuan batuan yang ada. Namun, ada tiga batuan yang menjadi primadona utama karena paling diduga kuat sebagai meteorit (Gambar 1). Ketiga batuan tersebut berukuran paling besar di antara temuan batuan lainnya, berwarna abu-abu gelap, berbentuk membulat tanggung, berdiameter sekitar 40-60 cm, kondisi agak lapuk, dan masif. Pada sebagian permukaan batuan terlihat struktur vesikuler sebagai ciri khas batuan beku gunungapi. Tim Museum Geologi juga melakukan pemeriksaan langsung ke lapangan, salah satunya di Kali Bringin, Hutan Tritik (Gambar 2).

tim-museumGambar 1. Tim Museum Geologi melakukan pemeriksaan menggunakan alat XRF handheld terhadap tiga temuan batuan yang diduga meteorit.

Setelah diteliti secara langsung menggunakan alat XRF handheld serta melakukan penelusuran di lapangan, ketiga batuan yang menjadi primadona tersebut nampaknya merupakan batuan gunungapi hasil pembekuan magma yang mengandung silika di atas 45%, FeO2 di bawah 10% dan tidak memiliki unsur Nikel (Ni). Batuan ini diduga tertransportasi jauh dari sumber gunungapi utamanya kemudian terbawa ke aliran sungai. Hal ini menyebabkan bentuk batuan cenderung tumpul dan membulat seperti bongkah batuan di sungai. Pada umumnya meteorit memiliki unsur besi metalik (metallic iron) yang cukup tinggi dan unsur nikel (Ni).

Namun pada ketiga batuan tersebut persentase unsur besi (Fe) sangat rendah dibandingkan unsur Fe di batuan meteorit pada umumnya. Selain itu, meteorit memiliki struktur permukaan yang khas akibat panas hasil dari gesekan meteorit dengan atmosfer Bumi, yang disebut dengan kerak fusi. Di lapangan, Tim Museum Geologi juga tidak menemukan bekas tumbukan meteorit maupun morfologi (umumnya berupa kawah) yang jelas sebagai bentuk akibat dari tumbukan benda luar angkasa dengan permukaan Bumi. Meskipun demikian, tidak semua meteorit yang jatuh ke Bumi meninggalkan jejak, terutama apabila meteorit tersebut berukuran kecil.

tim-museumGambar 2. Tim Museum Geologi sedang melakukan penelusuran ke area tempat ditemukannya dugaan meteorit di aliran Kali Bringin.

Seperti yang telah diketahui, meteorit sendiri terbagi menjadi meteorit besi (hampir seluruh bahan penyusunnya adalah unsur besi dan nikel), meteorit batu (unsur utamanya adalah mineral silikat), dan juga meteorit batu-besi (memiliki proporsi kandungan mineral silikat dan besi-nikel yang seimbang).  Ketiganya memiliki perbandingan komposisi unsur tertentu yang harus diteliti secara lanjut di laboratorium.

Dalam mempelajari meteorit, selain dilakukan pemerian megaskopis dan analisis XRF handheld, diperlukan juga analisis laboratorium lainnya. Analisis yang paling utama adalah analisis petrografi serta normalisasi persentase unsur di laboratorium.  Analisis petrografi merupakan analisis sayatan tipis batuan untuk menetukan jenis mineral dan tekstur mineral di bawah mikroskop polarisasi. Oleh karena itu, Tim Museum Geologi tetap membawa sedikit sampel batuan dari Hutan Tritik, Nganjuk, untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

meteorit

Contoh gambar Meteorit Besi (kiri) dan Meteorit Batu (kanan) koleksi Museum Geologi.

Tim Museum Geologi untuk saat ini tidak menemukan indikasi kehadiran meteorit di daerah Nganjuk. Namun demikian, tim Museum Geologi sangat mengapresiasi “Kota Sejuk” serta Disporabudpar Kabupaten Nganjuk atas perhatiannya pada sejarah dan benda-benda alam yang ditemukan. Semangat seperti ini perlu ditiru oleh masyarakat untuk mendukung edukasi masyarakat terhadap ilmu geologi di Indonesia.