Misteri Sesar Terkubur
Sesar adalah bidang diskontinuitas pada kerak bumi yang mengalami pergeseran. Adanya bidang diskontinuitas ini menggambarkan bahwa kerak bumi tidaklah homogen, padat, dan teratur, namun ada banyak rekahan-rekahan yang saling bergeser. Bayangkan jika kerak bumi ini seperti papan kayu yang tersayat-sayat, dan antarsayatan ini saling bergeser satu-sama lain.
Secara umum ada 4 pergeseran yang utama, yaitu sesar naik, sesar normal (turun), sesar mendatar, dan sesar menyerong atau oblik. Pergeseran ini terjadi akibat adanya gaya-gaya endogen, terutama gaya tektonik. Ketika bidang-bidang sesar ini bergeser, maka akan terjadi pelepasan energi yang sangat besar yang dirasakan sebagai getaran gempa. Gempa yang berasal dari sesar bisa bersumber dari sesar aktif, yaitu sesar yang sudah terbukti ada dan teridentifikasi aktif (selalu mengalami pergerakan/pergeseran), sesar tua yang tereaktivasi kembali, dan bisa juga dari sesar yang benar-benar baru terbentuk akibat robeknya kerak bumi.
Gambar 1. Penggambaran sesar pada peta geologi.
Sementara itu, di lapangan, para geolog akan memetakan dan mengukur sesar dan menggambarkannya dalam peta geologi dengan simbol garis-garis hitam yang ditebalkan. Garis sesar akan dibedakan dari garis batas satuan batuan dan garis lainnya. Dalam penggambarannya, ada 3 bentuk garis, yaitu garis utuh, garis terputus-putus, dan garis titik-titik, seperti terlihat pada Gambar 1. Garis utuh menggambarkan sesar yang secara kasat mata bidang sesar dan atau ciri-ciri sesar bisa dilihat dan dibuktikan di lapangan, sehingga bisa secara langsung diukur untuk mengidentifikasi arah pergeseran relatifnya. Sementara itu, garis terputus-putus artinya sesar itu direka. “Direka” di sini artinya bidang sesar tidak terlihat jelas di lapangan namun ciri-ciri keberadaan sesar bisa ditemukan di lapangan pada singkapan-singkapan tertentu.
Dikarenakan bidang sesarnya tidak jelas, maka keberadaan, baik bidang dan arah relatif pergeserannya, juga ditentukan berdasarkan interpretasi hasil pengukuran struktur penyerta ini. Yang terakhir adalah sesar yang tertutup/tertimbun/terkubur. Artinya sesar ini tidak teramati di permukaan karena tertutup endapan sedimen atau endapan gunungapi yang lebih muda (Gambar 2). Bagian sesar yang terkubur bisa sebagian atau seluruhnya. Sesar terkubur sebagian bisa diidentifikasi keberadaanya dari kemenerusan bagian sesar yang tersingkap, dan bisa juga dari interpretasi pada penampang kerak bumi. Sementara itu, sesar yang sepenuhnya terkubur dan tidak tersingkap biasanya tidak teridentifikasi oleh para geolog jika hanya dilakukan melalui pemetaan lapangan, sehingga keberadaannya akan menjadi misteri.
Gambar 2. Gambaran keberadaan sesar terkubur (garis titik-titik tebal) yang tertutupi oleh material yang lebih muda di atasnya (coklat-jingga). Menjadi sumber gempa potensial yang tak terlihat (lingkaran merah).
Sesar-sesar yang tidak nampak ini biasanya dapat teridentifikasi oleh kejadian gempa bumi atau melalui pengukuran geofisika bawah permukaan. Beberapa kejadian gempa bumi terbaru di Jawa Barat, yaitu gempa Cianjur dan gempa Sumedang merupakan contoh nyata dari aktivitas sesar-sesar tertutup/terkubur. Sesar yang menjadi sumber gempa Cianjur belum pernah diidentifikasi oleh para ahli gempa sebelumnya dan sontak mengejutkan pada ahli dan warga ketika gempa tersebut terjadi.
Awalnya para ahli menduga sumber gempa adalah sesar Cimandiri, yaitu sesar besar yang merentang dari Teluk Pelabuhan Ratu di Sukabumi, melalui Cianjur, hingga mendekati Gunung Tangkuban Parahu di Padalarang. Namun hasil pengukuran titik pusat gempa menunjukan pusat gempa relatif jauh dari sesar Cimandiri dan berada di kaki Gunung Gede, yaitu di Cugenang. Para ahli sepakat ini adalah sesar yang terkubur oleh endapan volkanik muda Gunung Gede dan menamainya Sesar Cugenang. Sesar ini belum teridentifikasi sebelumnya dan dianggap mengalami reaktivasi ketika gempa Cianjur terjadi. Reaktivasi sesar ini diperkirakan terjadi sekitar 100 tahun sekali jika merunut data gempa besar yang pernah mengguncang wilayah yang sama sebelumnya.
Kejadian serupa juga terjadi di Sumedang awal tahun 2024 ini. Wilayah kota Sumedang berada di sebuah dataran yang dikelilingi tinggian beberapa gunung di sekelilingnya sehingga menyerupai sebuah cekungan atau lembah yang dikelilingi G. Tampomas di utara, G. Kadaka di baratlaut, G. Manglayang di barat, dan G. Kareumbi di selatan. Posisinya yang berupa dataran ternyata berdiri di atas endapan material volkanik dan rombakan dari gunungapi-gunungapi tadi, sehingga keberadaan sesar di bawahnya juga belum teridentifikasi. Hingga gempa bumi pada 31 Desember 2023 terjadi, menyadarkan kita bahwa ada sesar aktif di bawah kota ini.
Supartoyo, ahli gempa bumi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi menduga sumber gempa adalah sesar Cileunyi-Tanjungsari yang merupakan sesar mendatar mengiri yang memanjang baratdaya-timurlaut dari Cileunyi hingga Tanjungsari. Keberadaan ujung sesar ini di timur laut diperkirakan terkubur oleh material volkanik di bawah kota Sumedang. Namun, para ahli dari Pusat Survey Geologi – Badan Geologi menemukan data sedikit berbeda, yaitu adanya bukti keberadaan sesar Cipeles, yaitu sesar yang memanjang relatif utara- selatan di sepanjang aliran sungai Cipeles di selatan kota Sumedang, sebagai sumber gempanya.
Ujung sesar Cipeles bagian utara juga tertimbun di bawah kota Sumedang. Bukti keberadaan sesar ini dapat diamati di beberapa singkapan di sepanjang aliran S. Cipeles. Di satu sisi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, melakukan kajianya sendiri dan menyimpulkan bahwa sumber gempa adalah sesar mendatar-naik yang berada di bawah Kota Sumedang, dinamai sesar Sumedang. Ketiga pihak ini memiliki pendapat berbeda mengenai sesar yang menjadi sumber gempa Sumedang, namun ketiganya setuju jika sesar tersebut terkubur di bawah Kota Sumedang.

Hingga kini, keberadaan sesar-sesar terkubur masih menjadi potensi ancaman gempa bumi laksana misteri. Hal ini dikarenakan keberadaannya belum bisa diketahui secara pasti jika gempa belum terjadi. Namun, ancamannya sangat nyata dan mengharuskan masyarakat selalu mawas diri.