Ragam Warna Mineral Ruang Geologi Indonesia
Kenapa mineral berwarna - warni?
Kenapa mineral berbentuk padat, kenapa tidak berbentuk cair, dan apa bedanya dengan air mineral?
Apakah semua mineral termasuk batu permata?
Apa bedanya mineral dan batuan?
Rentetan pertanyaan diatas kerap diajukan oleh pengunjung Museum Geologi dari berbagai kalangan usia, dan latar pendidikan yang berbeda saat melihat koleksi-koleksi mineral yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia. Warna dan bentuk mineralnya yang beragam menggelitik keingintahuan para pegunjung untuk menggali lebih banyak informasi tentang koleksi mineral tersebut.

Gambar 1. Mineral dengan beragam warna yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia, Musem Geologi- Bandung.
Mineral dalam konteks geologi didefinisikan sebagai padatan atau benda padat anorganik yang bersifat homogen yang terbentuk secara alami di alam, dan memiliki sifat fisika dan kimia tertentu. Artinya kristal buatan manusia, benda padat yang berasal dari bahan organik, dan benda cair tidak termasuk mineral. Air mineral yang kerap dipromosikan sebagai air yang bermanfaat bagi kesehatan sebenarnya merupakan air yang mengandung unsur-unsur terlarut lainnya yang berasal dari sumber alami, seperti kalsium, magnesium, natrium, kalium, dan bikarbonat. Unsur-unsur tersebut dianggap bermanfaat bagi kesehatan, seperti menjaga kesehatan tulang dan keseimbangan elektrolit.
Sedangkan, istilah homogen yang dimaksud pada definisi di atas merujuk pada sifat suatu mineral yang memiliki komposisi yang seragam di seluruh bagiannya, baik rasio komposisi kimianya maupun struktur atomnya yang teratur. Karena masing-masing mineral memiliki sifat fisika dan sifat kimia yang berbeda, hal inilah yang menyebabkan warna mineral berbeda. Perbedaan kedua sifat itu jugalah yang dijadikan acuan bagi para ahli untuk mengidentifikasi jenis dan nama mineral.
Warna secara umum didefinisikan sebagai unsur cahaya yang dipantulkan oleh suatu benda, yang kemudian diinterpretasikan oleh mata manusia, dimana setiap warna memiliki panjang gelombang tertentu. Pantulan yang dihasilkan oleh benda (misalnya mineral) tentunya sangat dipengaruhi oleh sifat kimia dan fisika bendanya. Sifat kimia mineral dapat berupa adanya perbedan komposisi kimia, dan kehadiran unsur pengotor yang bukan merupakan bagian unsur-unsur utama penyusun mineral tersebut. Penjelasan sederhananya adalah jika suatu mineral terdiri dari satu unsur atau lebih, dan unsur-unsur tersebut dianalogikan sebagai pensil warna, dimana masing-masing unsur diwakili oleh satu warna, maka percampuran antar beberapa warna tentunya akan menghasilkan warna yang beragam. Misalnya warna ungu pada mineral ametis atau kecubung (SiO2) disebabkan oleh unsur pengotor berupa Fe serta unsur jejak; warna hijau pada emerald atau zamrud (Be3Al2SiO6) disebabkan oleh adanya unsur-unsur pengotor berupa kromium, dan vanadium; warna biru pada azurite ((Cu3(CO3)2(OH)2) disebabkan oleh keberadaan unsur tembaga, dan warna merah muda pada rhodochrosite (MnCO3) disebabkan oleh keberadaan unsur mangan dalam komposisinya.

Gambar 2. Koleksi mineral : (a) ametis, (b) zamrud, (c) azurite, dan (d) rhodochrosite yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia.
Adapun sifat fisik yang dapat menyebabkan warna mineral berbeda disebabkan oleh perbedaan struktur dan sistem kristalnya. Struktur kristal merujuk pada susunan atom, dan molekul (dua atau lebih atom yang terikat bersama melalui ikatan kimia), yang mencakup pengaturan spasial dan pola berulang (kisi kristal) dari partikel-partikel dalam ruang tiga dimensi. Kehadiran sejumlah atom “asing” yang bukan bagian penyusun mineral dalam struktur kristalnya, dan adanya kekosongan atau ketidakhadiran atom pada posisi yang seharusnya, akan menyebabkan keragaman warna mineral. Sedangkan sistem kristal merupakan pengelompokan berbagai jenis kristal berdasarkan bentuk dan sifat simetrinya, yang dibagi menjadi 7, yaitu kubik, ortogonal, rombohedral, monoklin, triklin, tetragonal, dan heksagonal.

Gambar 3. Salah satu koleksi mineral kuarsa yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia, yang memiliki sistem kristal heksagonal (terdiri dari enam bagian).

Gambar 4. Mineral garnet, salah satu mineral yang memiliki sistem kristal kubik yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia.
Fakta menariknya adalah, keragaman warna mineral di alam menarik minat para kolektor untuk dikoleksi, dan kerap dijadikan sebagai batu permata dengan harga jual yang tinggi. Batu permata dapat berupa mineral dan batuan yang terbentuk melalui proses geologi (artinya terbentuk secara alami di alam), yang memiliki ketahanan, keindahan, dan kelangkaan. Ketahanan merujuk pada kekerasan mineral terhadap goresan atau kikisan yang ditunjukkan dalam skala mohs (1 - 10), artinya pada saat dibentuk atau dipoles mineral tidak mudah hancur. Keindahan mineral mencakup warna, pantulan atau kilap, dan bentuk kristalnya. Sedangkan kelangkaan artinya susah ditemukan atau keterdapatan mineral tersebut jarang di alam.
Berdasarkan tingkat kekerasannya, batu permata diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu batu semi mulia dan batu mulia tulen. Batu semi mulia atau yang umum disebut gemstone (batu akik) memiliki kekerasan 4 - 7 pada skala mohs, contohnya ametis, kalsedon, agate, dan jasper. Batu mulia tulen memiliki kekerasan > 7 – 10 pada skala mohs, contohnya intan, korundum, garnet, topas, dan turmalin. Umumnya mineral-mineral hydrous (mineral yang mengandung molekul air pada komposisi kimianya), memiliki kekerasan 1 – 3 pada skala mohs, sedangkan mineral-mineral anhydrous dan silikat (kelompok mineral yang mengandung silikon dan oksigen) memiliki kekerasan > 5 pada skala mohs.
Meskipun mineral dan batuan sama-sama berbentuk padat, dan kerap dijadikan sebagai batu akik, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, baik komposisi maupun strukturnya. Batuan tersusun atas kumpulan dari satu atau lebih mineral, serta dapat juga mengandung bahan organik dan material lainnya, yang terbentuk di alam pada kondisi dan lingkungan geologi tertentu.
Nah sahabat museum geologi penasaran ingin melihat warna warni mineral yang dipamerkan di Ruang Geologi Indonesia, yuk berwisata edukasi ke Museum Geologi.